Lapotan Taksonomi Tumbuhan Rendah : Eumycetes (Jamur benar)

BAB I

PENDAHULUAN

  1. A.    Latar belakang

Fungi ditempatkan pada sebuah kingdom tersendiri berdasarkan sejumlah ciri yang berbeda.  Semua fungi adalah eukariotik, heterotrofok, dan kecuali khamir, multiseluler (atau multinukleus) fungi memperoleh makanannya dengan cara penyerapan, bukan dengan ingesti. Fungi mensekresikan enzim-enzim pencernaan ke luar tubuh, lalu menyerap produk-produk digesti yang terjadi di luar tersebut. Kebanyakan fungi memiliki dinding sel yang terbuat dari kitin. Semua fungi tidak memiliki flagella dan terbatas motilitasnya.

Dalam praktikum kali ini, kita akan mengamati bagaimana bentuk morfologi dari perwakilan masing-masing fungi. Karena kita tidak cukup hanya dengan teori saja, kita mesti tahu bagaimana fungi itu sebenarnya. Selain itu juga kita bisa mengetahui bagaimana cara perkembangbiakannya. Untuk itulah kila melakukan pengamatan pada fungi.

 

  1. B.     Tujuan

Setelah melakukan kegiatan ini, diharapkan mahasiswa mampu :

  1. Menerangkan adanya variasi pada jamur benar
  2. Menerangkan susunan tubuh jamur berbagai jenis jamur yang tergolong dalam jamur benar
  3. Menyebutkan ciri-ciri kelas pada jamur benar
  4. Membedakan antara antara jenis jamur yang satu dengan jamur lainnya.
  5. Menjelaskan cara reproduksi beberapa jenis jamur yang tergolong dalam jamur benar.
  6. C.    Waktu dan tempat
    1. Hari / Tnggal         : Sabtu, 28 April 2012
    2. Waktu                   : 08.00 Wita – Selesai
    3. Tempat                  : Laboratorium Pendidikan IPA Biologi IAIN Mataram

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

  1. A.    Eumycota ( jamur benar)

Miselium bercabang-cabang dan bersepta, dinding selnya terdiri dari khitin. Pembiakan vegetatif dengan spora yang terbentuk endogen di dalam asci, atau eksogen pada basidia. Pembentukan asci dan basidia merupakan sifat-sifat yang spesifik dan menjadi dasar dalam membagi-bagi Eumycetes ke dalam taksa yang lebih kecil.

Asci bagi Ascomycetes merupakan alat reproduksi yang spesifik, yang sebenarnya adalah sporangia yang berbentuk pembuluh berjumlah 8 spora, yang terjadinya endogen. Sedangkan basidia adalah alat reproduksi yang berbentuk ganda, dengan penonjolan terbentuk 4 basidiospora yang eksogen.

Asci dan basidia terkumpul dalam suatu badan buah yang terdiri dari pletenchym. Dalam badan buah asci atau basidia itu tersusun tegak dan berjajar seperti jaringan tiang (palisade) bersama-sama dengan parifisa dan merupakan suatu lapisan yang disebut himenium (Suwarsono Heddy,203: 1990).

  1. B.     Alat perkembangbiakan Eumycota

Berdasarkan alat perkembangbiakannya, Eumycota dibagi dalam 3 anak kelas, yaitu:

  1. Ascomycetes,berkembangbiak dengan oksospora, di samping itu juga dengan konidium. Oksospora yang terjadi didahului oleh peristiwa-peristiwa berikut :
    1. Perkawinan (kopulasi) antara gametangium betina dengan gametangium jantan.
    2. Plasmogami, bersatunya plasma kedua gametangium tersebut.
    3. Kariogami, bersatunya inti yang berasal dari kedua gametangium tadi.
    4. Pembealahan reduksi setelah kariogami, baru kemudian disusul dengan pembentukan aksospora secara endogen, menurut pembentukan sel bebas.
    5. Basidiomycetes, berkembangbiak dengan basidiospora, kadang-kadang juga dengan konidium. Pada Basidiomycetes terdapat suatu organ yang karakteristik baginya, seperti askus pada Ascomycetes, yaitu basidium. Basidium adalah suatu badan yan melalui penonjolan selalu membentuk 4 spora. Basidium itu terdiri atas 1 sel yang membesar atau terbentuk ganda dengan 4 eksospora padanya atau bersekat-sekat, jadi terdiri atas beberapa sel yang masing-masing membentuk satu basidiospora.
    6. Deuteromycetes atau Fungi imperfecti,  yang tidak mempunyai askus atau basidium dan hanya membiak dengan konidium saja. Deuteromycetes meliputi berjenis-jenis cendawan yang sekarang hanya dikenal konidiumnya saja, tetapi askus atau basidium belum pernah terdapat. Oleh sebab itu cendawan-cendawan tersebut juga dinamakan Fungi imperfecti (cendawan yang tidak sempurna). Mungkin cendawan-cendawan ini telah kehilangan daya untuk menghasilkan organ-organ tersebut, atau cendawan ini adalah suatu fase perkembangan cendawan yang tergolong ke dalam Ascomycetes atau Basidiomycetes, tetapi yang tidak diketahui hubungannya (Gembong Tjitrosoepomo,119-171:2009).

Fungi dibedakan menjadi dua golongan yakni: kapang dan khamir. Kapang merupakan fungi yang berfilamen atau mempunyai miselium, sedangkan khamir merupakan fungi bersel tunggal dan tak berfilamen. (Waluyo, 2007: 241)

 

  1. C.    Ciri-ciri

Fungi memiliki beberapa ciri-ciri antara lain:

  1. Tidak mempunyai klorofil sehingga tidak dapat berfotosintesis
  2. Memiliki asam inti ARN dan ADN
  3. Memiliki dinding kitin dan selulosa
  4. Ada yang bersel satu dan ada yang bersel banyak
  5. Hidup di tempat yang lembab dan banyak zat organik
  6. Bersifat heterotrop, tidak dapat membuat makanan sendiri atau tidak dapat merubah anorganik menjadi organik.
  7. Ada yang parasit dan saprofit. (prowel, 2010: 32)

 

  1. D.    Struktur dasar Eumycota

Fungi terdiri atas jalinan benang-benang bercabang banyak yang disebut hifa. Benang-benang, atau filamen, tersebut hanya terbagi-bagi tak sempurna menjadi sel-sel terpisah oleh dinding (septum, jamak septa), yaang tersebar diseluruh jalinan hifa. Septum membentuk sudut siku-siku terhadap sumbu panjang hifa. Pada kebanyakan funi, septum berpori-pori dan memunkinkan aliran sitoplasma dari satu sel ke sel lainnya. Pada kelompok lain, nukleus tersebar di seluruh masa sitoplasma yang tak terputus, suatu struktur senositik. Keseluruhan masa filamentus dibut miselium. Dalam miselium yang tumbuh cepat pada fungi parasiti, serinkali muncul hifa-hifa terspesialisasi yang disebut haustoria. Pada fungi yang merupakan parasit tumbuhan, penjuluran-penjuluran pendek itu mempenetrasi sel-sel tumbuhan dan dengan cepat menyerap nutrien apapun yang ada di sana (George H. Fried & George J.Hademenos,327:2005).

  1. E.     Sifat Fisiologi Fungi

Fungi dapat hidup dalam keadaan sekitar yang tak menguntungkan bila dibandingkan dengan mikroba lainnya. Adapun sifat-sifat fisiologi fungi antara lain:

  1. Kebutuhan air

Kebanyakan fungi atau kapang membutuhkan air, minimal untuk pertumbuhannya dibandingkan dengan bakteri.

  1. Suhu pertumbuhan

Kebanyakan fungi bersifat mesofilik, yaitu mampu tumbuh baik pada suhu optimum 25 sampai 300C.

  1. Kebutuhan oksigen dan PH

Semua fungi bersifat aerobik, yakni membutuhkan oksigen dalam pertumbuhannya. Biasanya pertumbuhannya akan baik apabila pada kondisi asam atau PH rendah.

  1. Nutrisi

Fungi dapat menggunakan berbagai komponen makanan, dari yang sederhana sampai yang kompleks, fungi mampu memproduksi enzim hidrolitik, seperti: amilase, pektinase, proteinase dan lipase. (Waluyo, 2007: 245)  

  1. F.     Nutrisi Absortif Memungkinkan Fungi Hidup Sebagai Pengurai Dan Simbion

Fungi adalah heterotrop yang mendapatkan nutriennya melalui penyerapan( absorption ). Dalam cara nutrisi ini, molekul – molekul organic kecil diserap dari medium sekitarnya. Fungi akan mencerna makanan di luar tubuhnya dengan cara mensekresikan enzim – enzim hidrolitik yang sangat ampuh ke dalam makanan tersebut. Enzim – enzim itu akan menguraikan molekul kompleks menjadi senyawa yang lebih sederhana dan digunakan oleh fungi.

Cara memperoleh nutrient yang absortip ini menjadikan fungi terspesialisasi sebagai pengurai( saproba ), parasit, atau simbion – simbion mutualistic. Fungi sabrobik menyerap zat – zat makanan dari bahan organic yang sudah mati, seperti pohon yang sudah tumbang, bangkai hewan, atau buangan organism hidup. Di dalam proses nutrisi sabrobik ini, fungi menguraikan bahan organic tersebut. Fungi parasitic menyerap zat – zat makanan dari sel – sel inang yang masih hidup. Beberapa jenis fungi parasitic, misalnya seperti spesies tertentu yang menginfeksi paru – paru manusia, bersifat patogenik. Fungi mutualistic juga mmenyerap zat makanan dari organisme ini, akan tetapi fungi tersebut membalasnya dengan fungsi menguntungkan bagi pasangannya dalam hal tertentu, misalnya membantu suatu tumbuhan di dalam proses pengambilan mineral dari tanah.  ( Campbell, 1999. 186-187 )

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

METODOLOGI

 

  1. A.      Alat
    1. Mikroskop cahaya
    2. Kaca benda dan kaca penutup
    3. Pipet tetes
    4. Jarum pentol
    5. Lap dari bahan katun
    6. B.       Bahan
      1. Tempe
      2. Roti
      3. Yeast
      4. Jamur merang
      5. C.      Cara Kerja
        1. Pengamatan Mucor mucedo
          1. Menyediakan dua lapis roti tawar. Melembabkan roti tawar tersebut dengan cara memercikkan air atau semprot dengan sprayer. Meletakkan roti yang telah dilembabkan tersebut di atas kertas koran yang sudah di lembabkan. Mengalasi dengan plastik. Menjaga kelembaban roti tersebut. Melakukan kegiatan tersebut 7 hari dan 3 hari sebelum praktikum (1 lapis roti H-7 dan 1 lapis lagi H-3)
          2. Pada saat praktikum, kami membuat sediaan dengan cara mengambil sebagian miselium dengan ujung jarum. Meletakkan ujung jarum tersebut di atas kaca benda yang telah diberi setetes air. Dengan dua jarum, perlahan-lahan uraikan miselium supaya lebih renggang dan jelas. Menutup dengan kaca penutup. Mengamati dibawah mikroskop mengenai bagaimana susunan benang hifanya (adakah sekat atau tidak)!
          3. Mencari hifa yang mempunyai cabang sporangiofor lengakap dengan sporangiumnya, kemudian membuat gambar dan menunjukkan bagian-bagiannya!
          4. Pada sediaan yang sama, mencari bagian yang memperlihatkan reproduksi seksual.. mencari dua hifa yang berdekatan yang melakukan konjugasi dan mengamati gamet pada setiap ujung masing-masing bentukan tabung. Mencari juga tahapan selanjutnya yaitu gamet-gamet yang telah berdifusi membentuk zigot berdinding tebal! Menggambar hasil pengamatan.
          5. Pengamatan Rhizopus
            1. Menyediakan tempe
            2. Pada saat praktikum, membuat sediaan dengan cara yang sama seperti membuat sediaan jamur roti!
            3. Melakukan pengamatan seperti yang kita lakukan terhadap Mucor mucedo!
            4. Pengamatan yeast (ragi roti)
              1. Sehari atau semalam sebelum praktikum, kami membuat larutan gula dalam botol bersih dan bubuhkanlah yeast kedalamnya. Menutup botol tersebut
              2. Pada saat praktikum, mengambil dengan pipet sedikit larutan yang telah disiapkan dan meneteskan pada kaca benda, kemudian menutup dengan kaca penutup. Mencari sel tunggal dan berukuran besar. Selain itu, mencari pula tahap “budding”. Mengamat dan membuat gambarnya.
              3. Pengamatan jamur merang
                1. Menyediakan jamur merang (Volvariella volvacea). Jamur ini bisa di temukan sebagai jamur segar atau kalengan
                2. Mencari bagian yang disebut stipe (tangkai), pileus (tudung), bilah-bilah dan volvanya. Menggambar bagian-bagian tersebut
                3. Memperhatikan pileusnya, bilah-bilah terdapat pada permukaan atas atau bawah pileus?bagaimana susunannya?
                4. Membuat irisan melintang  bilah. Meletakkan irisan tersebut di atas kaca benda yang sudah di tetesi air. Menutup dengan kaca penutup, mengamati di bawah mikroskop. Mencari bagian yang disebut himenium, basidium, dan benang parafisis. Menunjukkan dengan gambar.
                5. Dengan perbesaran kuat, kami engamati bentuk basidium. Bagaimana bentuknya?  Berapa jumlah basidiospora pada setiap basidium?
                6. Membuat irisan membujur stipe (tangkai). Meletakkan diatas kaca benda  yang telah ditetesi air. Menutup dengan kaca penutup, mengamati jaringan-jaringan hifanya!

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB 1V

PEMBAHASAN

  1. A.      Data Hasil Pengamatan
    1. Pengamatan Mucor mucedo
 
 

 

 

 

 

 

10 x 10

 

 

 

Keterangan :

  1. Sporangium (kotak spora)
  2. Hifa
  3. Spora

 

 

 

                             H-3

 
 

 

 

 

 

 

4X10

 

 

 

                                                                             Keterangan :

  1. Sporangium
  2. Spora
  3. Hifa

 

 

 

                             H-7

 

 

 

 

 

 

  1. Pengamatan Rhizopus
 
 

 

 

 

 

10X10

 

 

 

Ket.

  1. Hifa
  2. Sporangium
  3. Miselium

 

H-3

 
 

 

 

 

 

 

10X10

 

 

 

                                                           Ket.

  1. Sporangium
  2. Hifa
  3. Spora
  4. Miselium

 

 

                       H-7

  1. Pengamatan yeast (ragi roti)
 
 

 

 

 

 

 

10X10

10

 

 

 

Ket.

  1. Sel tunggal
  2. Sel berukuran besar

 

 

 

 

 

 

 

  1. Pengamatan jamur merang
 
 

 

 

 

 

Ket.

  1. Tudung (miselium primer)
  2. Stipe (miselium skunder)
  3. miselium

 

 

 

 

 

 

  1. B.     Analisis Prosedur

Pada acara praktikum kali ini kita melakukan pengamatan pada jamur/fungi. Untuk melakukan pengamatan tersebut, terlebih dahulu kami menyiapkan 4 preparat, terdiri dari preparat Mucor mucedo yang berumur H-7 dan H-3 praktikum. Perlakuan yang kita lakukan pada Mucor mucedo adalah dengan mengambil sedikit dari Mucor mucedo yang tumbuh pada roti dengan menggunakan jarum kemudian ditaruh pada kaca benda dan ditetesi sedikit air kemudian ditutup dengan kaca penutup. Kemudian setelah itu kita melakukan pengamatan.

 Kemudian pada preparat yang ke dua yaitu pengamatan pada Rhizopus, kita menyediakan Rhizopus yang berumur H-3 dan H-7 praktikum. Perlakuannya sam dengan apa yang kita lakukan pada Mucor mucedo.

Pada pengamatan yeast. Semalam sebelum kami melakukan  praktikum, kami membuat larutan gula dalam botol aqua yang bersih dan menaruh yeast kedalamnya, kemudian botol tersebut kami tutup. Dan pada saat praktikum, kami mengambil larutan tersebut menggunakan pipet tetes dan kami teteskan diatas kaca benda kemudian kami tutup dengan kaca penutup dan mengamatinya di bawah mikroskop. Setelah semua bagiannya di temukan, kami membuat gambar.

Preparat yang ke empat yaitu pengamatan pada jamur merang, pada jamur merang ini kita hanya mengamati bentuk morfologinya saja.

  1. C.    Analisis hasil

Dari hasil pengamatan yang kami lakukan pada Mucor mucedo yang terdapat pada roti tawar yang sudah dipercikin air, di mana dalam pengamatan ini kami melakukan dua macam pengamatan. Pengamatan pertama kami lakukan pada Mucor mucedo yang berumur H-3 Praktikum. Pada Mucor mucedo H-3 kami dapat melihat bagaimana bentuk hifa, spora, sporangium dan rhizoid. Sebagaiman kita ketahui bahwa hifa merupakan benang-benang halus yang bentuknya transparan, hifa pada Mucor mucedo tidak memilik sekat atau jarak antar sel. Spora merupakan alat perkembangbiakan generatif dan vegetatif dari Mucor mucedo itu sendiri. Sporangiu merupakan kotak sebagai tempat menampung spora sebelum spora itu matang. Rhizoid bisa kita katakn seperti akar pada tumbuhan.

Sedangkan pada Mucor mucedo H-7, kmi juga menemukan hal yang sama seperti H-3, tetapi di sini terdapat sedikit perbedaan, pada M. mucedo H-7 sporanya tampak jelas sekali dan ukuran jamurnya lebih jelas itu mungkin disebabkan karena yang H-7 lebih lama umurnya ketimbang yang H-3.

Kemudian pada pengamatan Rhizopus, tekhnik pengamatannya sama seperti pada M. mucedo kita menyediakan Rhizopus yang berumur H-3 dan H-7 praktikum. Di mana pada Rhizopus H-3 kami hanya menemukan satu jamur saja,dan yang banyak kami temukan adalah hifa yang masih belum memiliki sporangium dan bentuknya tidak karuan. Sedangkan pada Rhizopus H-7, kami menemukan banyak sekali jamurnya dan sporanya sudah mulai menyebar dan berjatuhan, itu karena disebabkan pecahnya sporangium pada jamur tersebut.

Pada pengamatan yeast, kami melihat banayk sekali sel-sel yang ukuran dan bentuknya yang bervariasi, ada yang tunggal, ada yang berkoloni membentuk rantai dan ada pula sel yang berukuran besar. Warna dari sel-sel tersebut transparan.

Jamur merang, pada pengamatan jamur merang ini kita hanya melakukan pengamatan pada bentu morfologinya saja, kami melihat bagaimana bentuk tudung, stipe dan miseliumnya.

  1. D.    Evaluasi

Pertanyaan

  1. Apakah kegunaan Rhizopus bagi manusia?
  2. Gambarlah tahap-tahap konjugasi pada jamur roti?
  3. Pada saat membuat biakan ragi roti (Yeast), botol tempat pembiakannya ditutup rapat. Mengapa demikian?
  4. Mengapa pula pembiakannya medium larutan gula?
  5. Sebutkan beberapa Basidiomicetes yang bermanfaat bagi manusia?
  6. Sebutkan pula beberapa Basidiomicetes yang menghasilkan racun dan berbahaya bagi kita!

Jawaban

  1. Kegunaan Rhizopus bagi manusia yaitu untuk pembuatan tempe, oncom putih dan membuat tape.

 

 

 

  1. Gambar tahap konjugasi pada jamur roti
 
   

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. Karena kalau tidak ditutup rapat udara luar akan masuk dan pembiakan yeast nya menjadi tidak baik serta yeast tersebut akan mengembang dan menjulur keluar.
  2. Karena hanya dengan larutan gula sel-sel yeast itu dapat hidup, dan menyukai yang manis.
  3. Basidiomycetes yang bermanfaat bagi manusia antara lain:
    1. Volvariella volvacea jamur merang, dapat dimakan
    2. Auricularia polytrica jamur kuping, dapat dimakan
    3. Pleurotes jamur tiram, dapat dimakan
  4. Basidiomicetes yang menghasilkan racun antara lain:
  • Deuteromycota
  • Ascomycota
  • Zygomicota

 

BAB V

PENUTUP

 

  1. A.      Kesimpulan

Eumycota atau jamur benar memiliki bentuk tubuh yang terdiri dari hifa, sporangium, spora dan rhizoid. Eumycota ada yang merugikan dan ada yang menguntungkan.

  1. B.       Saran

Buat kakak-kakak co.ass diharapkan lebih menguasai materi praktikum berikutnya, agar pratikum bisa berjalan dengan lancar.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Campbell, dkk. 1999. Biologi edisi kelima jilid 2. Erlangga : Jakarta.

Fried dan Hademenos. 2005. Biologi edisi kedua. Jakarta : Erlangga

Heddy, Suwasono. 1990. Biologi Pertanian. Jakarta : CV. Rajawali

Sianipar, Prowel. 2010. Mudah dan Cepat Menghafal Biologi. Yogyakarta : Pustaka Book Publisher

Tjitrosoepomo, Gembong. 2009. Taksonomi Tumbuhan. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press

Waluyo lud. 2007. Mikrobiologi Umum. Malang : universitass muhammadiyah malang

 

 

 

 

 

 

 

 

 

LAMPIRAN

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s